Ziarah Ke Goa Maria Tritis Wonosari Yogyakarta

Hai guys, pada hari Jumat, 18 Oktober 2013,  teman-teman yang beragama Katholik berziarah ke Gua Maria Tritis di Wonosari Daerah Istimewa Yogyakarta. hmm… siapa yang udah pernah berkunjung ke sini hayooo…?? gak cuma siswa-siswi yang beragama Khatolik loh yang ikut ke tempat ini. ada juga siswa yang beragama Kristen Protestan bahkan Islam. mereka yang beragama non Katholik, bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan alam di sekitar Gua Maria Tritis. walaupun berbeda agama tapi mereka tetep saling bersahabat. karna perbedaan itu indah guys.. heeheheeee
naahh,  yukk kita intip sejarah Gua Maria Tritis.
Gua Maria Tritis di Wonosari merupakan  gua alam  yang memiliki stalaktit dan stalakmit nan menawan. (Tritis merupakan salah satu kata dalam  bahasa Jawa yang berarti tetesan air; dan air itu menetes dari stalaktit. Air itu kemudian ditampung untuk digunakan sebagai obat.) Letaknya yang jauh dari perkampungan penduduk membuat gua ini terkesan “angker” dan sunyi. Gua tersebut berada di pantai selatan Jawa, dekat Samudera India. Kondisi gua masih sangat alamiah.

Penemuan gua ini bermula dari permintaan Romo Al Hardjasu-darma SJ, Pastor Paroki St Petrus Kanisius Wonosari, kepada beberapa anak sekolah di SDK Sanjaya Giring (Stasi Singkil), sekitar 3 km sebelah utara gua Maria Tritis untuk membuat gua tiruan menjelang Misa Natal pada 25 Desember 1975. Kemudian, salah seorang dari anak-anak itu memberitahu pastor itu tentang gua alam yang indah yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Inilah permulaan dari  pembangunan Gua Maria  Tritis, Wonosari.

Suasana di sekitar Gua Maria Tritis sangat hening. Keheningan itu sangat terasa pada saat melakukan prosesi jalan salib karena  me-nelusuri jalan-jalan su-nyi dan lengang. Stasi-stasi berada di antara semak-semak. Dulu, lokasi ini dinilai angker oleh penduduk setem-pat sehingga jarang dilewati. Lokasi Jalan Salib terletak di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Pada musim kemarau daerah ini tampak kering kerontang, namun menjadi sangat rimbun dan teduh pada musim hujan.
Sejak pembangunan Gua Maria Tritis, tempat ini ramai dikunjungi umat, apalagi selama bulan Mei dan Oktober. Para peziarah, umumnya, tiba pada saat yang bersamaan waktunya, sekitar pukul 09.00 di terminal Wonosari dan tiba di gua sekitar pukul 11.00. Kemudian mereka meninggalkan gua sekitar pukul 13.00 dan langsung menuju tempat rekreasi pantai selatan seperti pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak, dan lain-lain. Gereja paroki Wonosari menyediakan pelayanan perayaan ekaristi bagi para peziarah.

Gunung Growong itu menjadi Gua Maria Tritis
Pada tahun 1975 Romo Hardjosudarmo SJ bertugas di Paroki Wonosari. Beliau juga membina para murid SD Sanjaya di dusun Pengos, Kelurahan Giring, Kecamatan Paliyan. Pada tanggal 25 Desember 1975 itu beliau bersama para murid SD Sanjaya merayakan misa Natal di gedung SD Sanjaya karena waktu itu di lingkungan SD Sanjaya belum mempunyai kapel. Setiap akan diadakan Misa Natal, Romo membuat “gua” dari kertas. Melihat hal itu  ada seorang murid berkata kepada Romo, “Romo, tidak usah membuat gua dari kertas, karena di tempat saya ada gua asli.” Lalu Romo pun bertanya, “Gua asli bagaimana?” Murid itu hanya menjawab, “Gunung itu growong (= berlobang besar).”

Maka pada suatu hari Romo dihantar oleh muridnya itu ke gunung growong itu. Sampai di dalam gua, Romo kagum dengan keindahan alam yang baru pertama kali dijumpainya, sehingga Romo berniat menjadikan gua tersebut sebagai tempat berdoa bagi umat Katolik. Tak lama setelah peristiwa itu Romo menemui Bapak R. Radio Sutirto, Kepala Desa Giring. Tujuannya adalah untuk meminta izin agar gua Tritis itu boleh dipergunakan untuk berdoa bagi umat Katolik. “Pak, bagaimana kalau Gua Tritis itu saya jadikan tempat sembahyang bagi umat Katolik? Apakah diperkenankan atau tidak?” Tanpa menunggu keesokan harinya Bapak Kepala Desa itu menyetujui permintaan Romo Hardjosudarmo, SJ itu. Berkat dukungan dan kerja sama masyarakat dusun Bulu jalan menuju ke gua dalam waktu kurang lebih satu bulan sudah dapat dilewati walau pun waktu itu keadaannya belumlah sempurna seperti sekarang. Dan, pada tahun 1979 Gua Maria Tritis diresmikan oleh Romo Lamers SJ dengan memasang Patung Bunda Maria. Sejak saat itu tempat itu dinamai Gua Maria Tritis.

Doa kepada Maria, Bunda yang Tak Bercela Hatinya
Bunda Maria, Perawan yang amat manis, Bunda yang berbelas kasih, Ratu Sorga dan pengungsian bagi para pendosa, kami mempersembahkan diri kami kepada Hatimu yang tak bercela. Kami mempersembahkan kepadamu keberadaan kami dan seluruh hidup kami: Semua yang kami miliki, semua yang kami kasihi, seluruh keadaan kami. Kami mempersembahkan kepadamu tubuh kami, hati kami, jiwa kami, rumah kami, keluarga kami, negara kami. Inilah harapan kami bahwa setiap hal dalam diri kami, setiap hal di sekitar kami menjadi milikmu dan kami boleh ikut serta merasakan kehangatan rahmat kasih keibuanmu. Dan semoga  persembahan ini benar-benar berguna dan abadi, dan kami perbaharui kembali saat ini di bawah kakimu, ya Bunda Maria, janji baptis kami dan janji Komuni Pertama kami. Kami pun berjanji dengan mantap untuk selalu membela kebenaran iman kami yang suci, untuk hidup sebagai orang Katolik yang penuh dan setia kepada selu ruh petunjuk ajaran Bapa Suci dan Bapa Uskup dalam persekutuan dengan-Nya.
Kami berjanji pula untuk memelihara perintah–perintah Allah dan Gereja, khususnya untuk menguduskan hari Tuhan. Kami berjanji untuk membuat bagian kehidupan kami sedapat mungkin, sebagai praktik hidup orang Katolik yang menyenangkan dan menerima komuni suci. Kami berjanji kepadamu, ya Bunda Allah yang mulia, dan Bunda umat manusia yang lembut, untuk menempatkan seluruh hati kami ke dalam pelayananmu, mempercepat dan meyakinkan bahwa melalui pemerintahan hatimu yang tak bercela, Hati Puteramu yang patut disembah-sembah akan memerintah jiwa kami dan setiap jiwa di negeri tercinta ini, dan di seluruh alam semesta di bumi dan di sorga. Amin.

Rute perjalanan
Terdapat beberapa rute perjalanan untuk berziarah ke gua Maria Tritis dari arah Yogyakarta.

  1. Yogyakarta – Wonosari: di Pertigaan Pasar Gading, dekat lapangan terbang landasan rumput ke kanan menuju Playen – Paliyan – Pasar Trowono, belok kiri ke Singkil, lokasi Gua Maria Tritis.
  2. Yogyakarta – Wonosari: dari alun-alun ke kanan  menuju Giring – Singkil. Jalan ini dilalui kendaraan kecil atau roda dua.
  3. Lewat Wonosari: dari alun-alun ke kanan menuju Giring – Paliyan – Pasar Trowono – Singkil. Jalan ini biasa dilalui kendaraan besar seperti bus.
  4. Yogyakarta – Wonosari: di pertigaan setelah pasar Wonosari ke kanan  menuju Baron. Setelah sampai di Kemadang belok ke kanan ke Singkil, lokasi Gua Maria Tritis.

Informasi
Peziarah yang yang hendak berziarah dan yang ingin merayakan Ekaristi di luar jadwal bisa menghubungi Panitia Gua Maria Tritis, cq.  Romo Paroki Wonosari di Pastoran Katolik St. Petrus Canisius,
Jln. Mgr Sugiyapranata 29,
Wonosari, Yogyakarta 55811
Telp (0274) 391063

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *